Air Mata Kebangkitan
Detik
waktu terus berlalu
Ditandai
dengan entakkan jarum panjang di kamar seorang pemuda
Termenung
meratap dalam mencari jati diri
Tatapan
tajam nan kosong tanpa terkedip sedikitpun
Memandangi
lentera bintang di plafon kamar nan gelap gulita
Hati
terus berperang dengan hebatnya
Saat
secercah cahaya mulai tampak di depan matanya
Namun
setiap ingin melangkah menggapai cita
Ajakan
itu datang silih berganti
Hanya
karena ingin menghargai
Ajakan
pun akhirnya ditaati
Walau
sanubari menangis saat keputusan itu dijalani
Ibunya
selalu menasihati dengan penuh harap
Agar
sang anak menyisihkan waktunya untuk berlatih
Bahkan
bukan hanya nasihat yang ibunya berikan
Doa
disertai tangis pun tak pernah luput dari waktu malam ibunya
Namun
sang anak tampaknya belum memahami
Padahal
secercah cahaya telah masuk ke dalam sanubarinya
Bisa
jadi sang pemuda sudah tahu akan hal itu
Tetapi
komitmen belum mengakar kuat di dalam diri
Hingga
waktu pun terus berjalan ke depan
Tanpa
terasa masa putih abu-abu pun tersisa 2 minggu lagi
Tahap
awal perjuangan yang ingin digapai tersisa 3 minggu lagi
Waktu
itu juga datanglah bara api di dalam dada
Mengawali
perjuangan untuk menggapai asa
Namun
sayang cita-citanya belum dapat diraih saat itu
Bukan
hanya apa yang diinginkan saja
Melainkan
segala hal yang diperjuangakannya saat itu
Harus
kandas dengan kegagalan
Menetes
air matanya mengenang masa
Masa
Ketika ia menyekat langkahnya dengan kelalaian
Terpukul
hatinya saat itu
Namun
sang ibu memberi senyum nan indah berseri
Terurai
indah kata-kata keluar dari bibirnya
Pelukan
hangat nan mesra menyelimuti tubuh sang anak
Bercucuran
air mata membasahi wajah mereka
Demi
menghibur sang anak yang mulai kehilangan arah
Hari
demi hari terlewati tanpa kepastian
Dikotomi
antara menyerah dan bangkit dalam menggapai asa
Secara
masif menghantui hati dan jiwa
Terus
terjadi dalam 1 bulan pertama pasca kegagalan
Hingga
akhirnya ia mulai rutin terbangun di kesunyian malam
Berdiri
tegak melantunkan kalam tuhan nan maha esa
Bergetar
hati dan jiwanya dalam kesunyian
Mengangkat
kedua tangan dan tertunduk hina ia dalam meminta
Lantunan
zikir mengalir indah dalam kidung doanya
Matanya
sembab karena menangis tersedu dalam doa
Air
mata penyesalan itu seakan pertanda kebangkitan dirinya
Lalu
terdengar bisik dalam hatinya “kau harus bangkit esok”
Merinding
seluruh badan pemuda itu mendengar intuisi hatinya
Sampailah
ia pada babak baru dalam hidupnya
Di
pagi hari sekali ia telah terbangun dari lelap tidurnya
Bergegas
segera memenuhi panggilan yang mahakuasa
Setelah
itu ia buka mushafnya dan membacakan segala isinya
Sampai
syuruq berlalu ia Kembali bangkit untuk ibadah
Mengagungkan
tuhan nan maha esa
Tertunailah
rangkaian ibadah di pagi hari
Berlanjut
langkah ke meja belajar kamarnya
Lalu
ia duduk di meja belajar yang telah lama ditinggalkan
Terbentang
jendela dunia di depan matanya
Matanya
tak luput dari memandang setiap untaian kata yang ada
Ilmu
pun terus berkembang dalam setiap bacaan yang ia baca
Mengeskalasi
pengetahuan dalam dirinya
Mulailah
ia menggenggam pena untuk mengikat ilmu yang didapat
Bara
api semangat terus ada dalam jiwanya
Waktu-waktu
pun terus berlalu dengan ditandai lelah di matanya
Bukan
hanya dirumah ia berjuang
Melainkan
harus menapaki jauhnya tempat bimbingan
Saat
sinar mentari mulai memuncak ia pergi untuk berjuang
Begitulah
hari-hari yang terus ia jalani
Hingga
tibalah masanya
Dia
harus berjuang Kembali untuk menggapai cita
Doa
mengangkasa dan ikhtiar membumi terus ia jalankan
Tibalah
waktu yang ia tunggu saat hasil perjuangan telah dikeluarkan
Air
mata Bahagia bercucuran membasahi pipi
Tak
kuasa ia menahan Bahagia
Ia
kabarkan kepada kedua orang tua
Lantas
saja suasana bahagia menyelimuti mereka saat itu
Awal
dari cita-citanya tercapai saat itu
Kini
ia pun terus melangkah maju
Menggapai
cita-cita yang lebih agung
Mengejar
visi besar di dalam diri
Hari-hari
pun tak pernah lepas dari mengeskalasi diri
Hangatnya
semangat terus ada dalam jiwa
Hingga
ia tumbuh menjadi pemuda yang lebih baik.
- - Fakhri
Irvanto, 07/04/2020.



Komentar
Posting Komentar